Jumat, 01 Oktober 2010

Selayang Pandang PKH Dilereng Gunung Pandan

Pendampingan di Desa Klangon
Kecamatan Saradan

Saradan, PB - Penghapusan kemiskinan merupakan tantangan global terbesar yang dihadapi dunia dewasa ini, dan karenanya menjadi syarat mutlak bagi pembangunan berkelanjutan. Maka itu para pemimpin negara sedunia pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Millenium di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), New York tahun 2000. Menetapkan upaya mengurangi separuh dari kemiskinan didunia sebagai “ Tujuan Pembangunan Millenium ( Millenium Development Goals )” bagi negara-negara anggota PBB yang harus dicapai pada tahun 2015 melalui 8 jalur sasaran :

  1. Mengurangi separuh proporsi penduduk dunia yang berpenghasilan kurang dari 1 dollar AS per hari dan proporsi penduduk yang menderita kelaparan;
  2. Mengurangi separuh proporsi jumlah penduduk yang tidak memiliki akses pada air minum yang sehat;
  3. Menjamin semua anak, laki-laki dan perempuan, menyelesaikan sekolah dasar;
  4. Menurunkan hingga 2/3 kematian bayi & anak dibawah usia lima tahun;
  5. Menghentikan penyebaran penyakit HIV / AIDS, malaria dan jenis penyakit lainya;
  6. Menghilangkan ketidaksetaraan gender disekolah;
  7. Menerapkan dengan konsekuen kebijakan pembangungan berkelanjutan; dan
  8. Mengembangkan kemitraan untuk pembangunan di semua tingkatan.

Demikian juga dengan negara Indonesia, telah membuat kebijaksanaan nasional untuk memberantas kemiskinan dalam rangka pelaksanaan pembangunan berkelanjutan, dimana pemerintah dan semua perangkat negara bersama dengan berbagai unsur masyarakat memikul tanggung jawab untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan dan sekaligus pengentasan kemiskinan paling lambat tahun 2015. Dalam rangka mewujudkan tersebut pemerintah menggelontor berbagai anggaran lewat beberapa Kementerian, diantaranya Kementerian Sosial yaitu salah satunya dengan Program Keluarga Harapan (PKH).

Dengan tujuan memutus rantai kemiskinan baik lewat fasilitas kesehatan maupun pendidikan, berupa bantuan dan perlindungan sosial bagi RTSM melalui bantuan langsung (chas transfer). Dengan harapan bisa membantu & meringankan beban anak-anak mereka kedunia pendidikan dan fasilitas kesehatan. Dalam merealisasikan program tersebut pemerintah merekrut tenaga pendamping sarjana yang nantinya diterjunkan kedesa-desa sasaran.

Adapun tugas dan fungsi pendamping antara lain :

1. Sebagai pendorong/penggerak (motivator), untuk mengajak RTSM melakukan perubahan pola pikir (mindset) baik dari segi pendidikan maupun kesehatan kearah yang lebih baik dan maju.

2. Sebagai katalisator, penghubung antara RTSM dengan Kepala Desa, Pemerintah Daerah (Kecamatan, Dinas Pendidikan, Puskesmas/Rumah sakit, Dinas Sosial, Kantor Pos) maupun stakeholder lainya.

3. Sebagai Partner, bersama-sama menggali mencari solusi/pemecahan yang baik guna peningkatan taraf hidup lebih baik dari segi pendidikan, kesehatan untuk anak-anak mereka.

Sedangkan Program Keluarga Harapan (PKH) di Madiun, tersebar diberbagai kecamatan dan desa kategori merah. Salah satunya di kecamatan Saradan tepatnya di desa Klangon. Secara geografis desa tersebut berada dilereng gunung Pandan yang sebagian besar penduduknya hidup dari hasil mbawon, menggarap lahan Perhutani KPH Saradan dengan sistim bagi hasil (sharing) untuk jenis tanaman tertentu, hal ini sebagai wujud kebersamaan untuk perbaikan konservasi sumberdaya hutan. Dengan penghasilan yang rendah serta didukung SDA & SDM yang kurang, mengakibatkan desa Klangon tergolong desa merah dan perlu mendapatkan PKH.

Pada tahun 2007 desa Klangon sebagai desa penerima Progaram Keluaraga Harapan (PKH) dengan jumlah penerima sebanyak 169 RTSM, seiring dengan berjalanya waktu 22 RTSM dinyatakan gugur karena tidak memenuhi persyaratan dan sampai sekarang tersisa 147 RTSM yang layak dan memenuhi persyaratan.

Dari 147 RTSM tersebut tersebar di empat dusun diantaranya dusun Bandungan, Sempol, Klangon, Pohulung. Untuk memudahkan Monitoring, Evaluasi, Pembinaan dan Koordinasi dibagi menjadi 6 kelompok.

Dusun Bandungan satu kelompok dengan ketuanya Ibu. Trirakarti, Dusun Sempol tiga kelompok dengan ketuanya Ibu. Dhiana, Kamini, Suratiningrum, sedangkan didusun Pohulung satu kelompok dengan ketuanya Ibu. Paini.

Dari keenam kelompok tersebut setiap bulan oleh pendamping diadakan kunjungan kerumah, tiga bulan sekali diadakan rekonsiliasi data dan enam bulan sekali diadakan pemutakiran data.

Untuk pemberdayaan setiap kelompok mengadakan iuran setiap habis pencairan yang besarnya disesuaikan atas kesepakatan bersama. Adapun tujuan iuran selain untuk kebersamaan dikelompok juga sebagai sarana untuk menciptakan usaha produktif dikelompok tersebut berupa arisan dan simpan pinjam.

Syukur Alhamdullilah dari kegiatan arisan dan simpan pinjam ini peserta PKH merasakan manfaatnya untuk kehidupan mereka sehari-hari.

Selain mendampingi kami juga membina, mengarahkan, membimbing penerima program serta memfasilitasi mereka kependidikan dan kesehatan, selalu koordinasi dan kerjasama dengan service provider dan stakeholder lainya.

Dengan adanya PKH di desa Klangon dampaknya dirasakan langsung oleh RTSM, diantaranya anak-anak mereka bisa melanjutkan sampai SMP, tingkat kematian ibu dan bayi menurun, meningkatnya derajat pengetahuan & kesehatan ibu hamil dan balita, berkurangnya pekerja anak, dll.

Mudah-mudahan Program Keluarga Harapan bisa berlanjut minimal sampai 2015 sehingga apa yang kita perjuangkan bersama-sama dengan pemerintah bisa terwujud demi mengurangi kemiskinan, meningkatkan Indek Pembangunan Manusia (IPM) menuju masa depan yang lebih baik dan maju. Amin.

SELAMAT DAN SUKSES

Uji Coba OmahPinter di Dusun Kedungrejo Desa Bandungan Kecamatan Saradan,
pada hari Minggu (26-September 2010)

'Semoga sedikit bisa memutus rantai kemiskinan'
melalui pemberian materi Pendidikan (privat) kepada Anak Didik Peserta PKH.....Amiin
dari redaksional
Bulletin 'PendampingBerdampingan'

Pendamping PKH Madiun Dirikan OMAH-PINTER

Rumah Pintar “insan HARAPAN kita”

DUSUN KEDUNGREJO DESA BANDUNGAN KECAMATAN SARADAN

Tidak mudah mengubah pola pikir RTSM peserta PKH agar mau dan mampu memahami arti penting pendidikan bagi masa depan putra putri mereka. Tidak jarang mereka menganggap bahwa mencari nafkah atau tidak sekolah jauh lebih baik daripada sekolah mengingat himpitan beban ekonomi keluarga (kemiskinan).

Namun hal seperti ini merupakan tantangan tersendiri yang ada di hadapan kita selama kegiatan pendampingan, mengingat salah satu tujuan PKH yang paling penting adalah mengubah pola pikir dan perilaku RTSM terhadap perbaikan status kesehatan dan pendidikan anak-anak RTSM sehingga diharapkan rantai kemiskinan dapat terputus di masa yang akan datang.

Dilatar belakangi oleh hal tersebut maka dirasa perlu dibentuk suatu komunitas yang merupakan tempat bagi berkumpulnya anak-anak peserta PKH ( pada tingkat SD dan SMP atau sederajat) dalam rangka membantu mereka yang mengalami kesulitan pelajaran di sekolahnya.

Tujuannya untuk membantu anak peserta PKH yang mengalami kesulitan pelajaran atau memberikan konsultasi bagi anak-anak peserta PKH di wilayah Dusun Kedungrejo Desa Bandungan Kecamatan Saradan. Mengingat orang tua mereka yang rata-rata hanya berpendidikan SD atau tidak tamat SD tidak mampu memberikan bimbingan belajar karena sulitnya pelajaran sekarang dibandingkan dengan pelajaran orang tuanya dulu.

Kegiatan ini dilakukan dalam rangka ikut membantu RTSM dalam meningkatkan kualitas dan prestasi anak-anak PKH memasuki tahun ke-3. Karena selama ini yang diberikan pembinaan secara langsung oleh pendamping adalah mayoritas ibu-ibu penerima PKH maka kegiatan ini dalam rangka ingin membina anak-anak RTSM secara langsung agar mereka dapat lebih bersemangat sekolah dan harapannya dapat berprestasi disekolah.

Jumlah anak SD yang bersedia mengikuti Rumah Pintar ini sejumlah 24 anak ( 19 anak peserta PKH dan 6 anak diluar PKH) dan Jumlah anak SMP sebanyak 5 orang. Jadi Total anak bimbing di Rumah Pintar ini sejumlah 29 Anak.

Pada tahap awal ini bimbingan dulakukan setiap hari Minggu pagi ja 08.00-11.00 WIB. Yang menjadi penanggung jawab adalah Ketua Kelompok PKH Dusun Kedungrejo yaitu Ibu Sumini, dibantu 1 orang tutor lulusan SMA yaitu Saudari Jujuk. Setiap Minggunya pendamping (Anang Effendi, Pendamping PKH Kec.Saradan) hadir sebagai pembina dibantu rekan-rekan pendamping dari kecamatan lain (Agustin, Ivan, Firdaus, Dhoni dan Saris)..

Sampai sejauh ini ini respon dimasyarakat sangat positif terhadap kegiatan ini, sehingga tidak menutup kemungkinan anak bimbing dari luar peserta PKH akan terus bertambah. Dan siapapun boleh ikut belajar di Rumah Pintar ini karena belajar adalah hak bagi siapa saja.

Kedepannya rumah pintar ini akan dikembangkan untuk Taman Bacaan Masyarakar (TBM), Kegiatan Pelatihan Keterampilan dan Kerajinan maupun Pendidikan Lingkungan. Harapannya adalah anak-anak ini akan mempunyai niat membaca yang tinggi karena buku adalah jendela dunia. Keterampilan dan Kerajinan diberikan agar melatih kretifitas dan kemandirian. Sedangkan pendidikan lingkungan harus diberikan agar mereka kelak dapat tumbuh menjadi generasi yang peduli dan mencintai Lingkungan (Sumber Daya Alam).

Anak-anak adalah generasi penerus bangsa yang sangat berhak untuk memperoleh pendidikan yang layak demi masa depan mereka sendiri dan masa depan bangsa ini. Karena sejatinya ini adalah masalah kita bersama dan secara bersama-sama pula keberadaan rumah pintar ini juga menjadi tanggung jawab bersama pula. Karena sesungguhnya siapapun berhak belajar dan menjadi pintar.......

Oleh : Anang Efendi, Pendamping PKH Kecamatan Saradan

Media Informasi UPPKH Madiun


Bulletin 'PendampingBerdampingan' Edisi September 2010

Madiun Peringkat ke 6

PRO POOR AWARD, dari Pemprov Jatim

Penilaian di Kabupaten Madiun (sebagai Nominasi peringkat ke-6 se-Jatim) dilakukan di Ruang Pemerintahan Kabupaten Madiun hari Rabu 15 September 2010 oleh Tim penilai yang terdiri dari 7 orang dari berbagai kalangan (Pendidikan, Kesehatan, Pemberdayaan dan PemProv Jatim). Acara ini dihadiri oleh Dinas-Dinas/SKPD di Kabupaten Madiun yang memiliki program pengentasan kemiskinan.

Dinas Sosial Kabupaten Madiun hadir didampingi oleh 2 Pendamping PKH (Agustin Hariyani S,Hut dan Ir. Slamet Harijanto) Terkait Pelaksanaan PKH di Kabupaten Madiun yang dunilai baik dan dinilai membanggakan dalam pemberdayaan masyarakat melaui KUBE PKH (Kelompok Usaha Bersama bagi peserta PKH.

Secara umum dismpaikan 3 masalah krusial di Kabupaten Madiun yaitu :

1. Masih tingginya masyarakat miskin di tepian hutan (30%).

2. Masih tingginya pengangguran terbuka

3. dan Masih tingginya amgkatan kerja dengan pendidikan SLTP kebawah.

Sedangkan Program Unggulan dari Kabuaten Madiun dalam pengentasan kemiskinan adalah :

1. Rumah Tidak Layak Huni (RTLH)

2. Orientasi Lapang tentang kemiskinan bagi PNS baru di Kabupaten Madiun dan

3. Bhakti Sosial Terpadu (BST)

Penilaian difokuskan pada program yang dinilai memiliki kreatifitas yang dianggap unggul, inovatif dan terobosan yang telah berhasil dilakukan. Semoga PRO POOR AWARD ini dapat menjadi ajang yang mampu mendongkrak pengurangan kemiskinan di Jatim dan harapannya Kemiskinan bukanlah sebagai komoditas tapi, adalah Kenyataan yang harus segera diberantas dan dicari solusinya. Semoga.............

Refleksi Pendampingan

Kekuatan dibalik Kelemahan

Di saat sulit dan sempit,misalnya ketika seseorang terancam bahaya, terbentur dengan kenyataan pahit, dihadapkan dengan realitas di luar jangkauan pemikirannya,bagi orang beriman biasanya taqarrub (kedekatan) dan tawakkal (kepasrahan) kepada Allah semakin kuat. Kondisi mentok atau terjepit seringkali memunculkan kesadaran fitrah akan intervensi Tuhan. Namun yang perlu direnungi,haruskah kesadaran itu tumbuh ketika melewati dan mengalami masa-masa sulit? Wajarkah kita bersyukur secara insidentil,sementara limpahan karuniaNya senantiasa mengalir membasahi tubuh kita,sekalipun pada saat yang sama kita tidak berhenti melakukan dosa dan kesalahan?

Sesungguhnya kehidupan manusia rentan dengan kesulitan,penyakit,dan musibah. Mari kita pandang tubuh kita secara tajam. Kita akan mendapati bagian tubuh ini ada lubang yang rawan terjangkiti penyakit mata,telinga,hidung,mulut,kaki dan tangan. Semuanya rentan luka Belum lagi penyakit dalam seperti kanker,tumor sesak nafas dan semacamnya yang tidak diketahui keberadaannya,namun sangat bahaya. Ketergantungan kepada Allah harus kita tumbuhkan sejak dini,termasuk pada saat Allah memberikan karunia yang sebaliknya,yakni kelapangan. Rasulullah bersabda “Kenalilah Allah pada saat lapang,niscaya Ia akan mengenalimu dalam kesempitan”.

Antara kesempitan dan kelapangan,kegagalan dan kelapangan sama pentingnya. Jangan kita menganggap bahwa ujian itu hanya berupa kesempitan saja. Kepasrahan kepada Allah harus kita lakukan setiap saat. Ketika duduk,berdiri,berbaring,berjalan dan berlari. Bahkan kala kita diam tidak beraktifitas. Karena takdir (rencana) dan qadha (pelaksanaannya) diluar rencana kita. “Ketahuilah takdir itu tidak berjalan menurut rencana kita,bahkan kebanyakan yang terjadi adalah apa yang tidak kita rencanakan dan sedikit sekali apa yang kita rencanakan”.

Karena kita rentan terkena musibah,ketergantungan kepada Allah sepanjang masa mutlak adanya. Marilah kita luruskan cara pandang terhadap problem kehidupan sehingga tidak terjebak pada sudut pandang hanya pada peristiwa kehidupan dengan berbagai seginya atau hanya dari sisi lahiriahnya. Kehidupan ini sebenarnya mirip pelangi ketimbang sebuah foto hitam putih. Setiap orang akan merasakan begitu beragam warna kehidupannya. Ia mungkin mencintai sebagian warna itu,tetapi yang pasti tidak akan menyukai semua warna.

Demikia perasaan kita,semua warna kehidupan akan kita respons dengan berbagai jenis perasaan yang berbeda-beda. Seorang menjadi pahlawan karena kemampuannya mengelola sebagaian perasaan sedemikian rupa sehingga tetap dalam kestabilan jiwa yang mendukung produktifitasnya. Kegagalan itu bisa mendorong seseorang untuk lebih menggali kompetensi intinya,pusat keunggulan,yang semula tidak terdeteksi sama sekali.

Ketenangan,kelapangan dada dan keberanian itulah salah satu hasil pendidikan ketergantungan kepada Allah. Manusia memang lemah. Namun Allah menyulap kelemahan itu menjadi sumber kekuatan. Pada kelemahan itulah sandaran kepada Allah semakin kokoh,suplai tenaga dan stamina ruhani bertambah. Puasa yang yang barusan kita lewati adalah salah satu media untuk merekam kelemahan diri. Maka abadilah ungkapan para ulama terdahulu yang mengatakan “Kekuatanku terletak pada kelemahanku”.

Ditulis Oleh :
Didik Subiantoro
Pendamping PKH Kecamatan Balerejo

Peran Posyandu

Ikut menyukeskan PKH demi tercapainya MDGs 2015

The Millennium Development Goals (MDGs) adalah delapan pembangunan internasional tujuannya antara lain pemberantasan kemiskinan, mengurangi angka kematian anak , memerangi penyakit epidemi seperti AIDS, dan mengembangkan kemitraan global untuk pembangunan dan harus tercapai pada tahun 2015.

Oleh karena itu kesehatan bagi Ibu-anak sangat diperhatikan guna kesuksesan program ini. Contoh penyakit yang perlu mandapat perhatian khusus adalah penyakit busung lapar. Yang dicirikan dengan perut membuncit, mata cekung, rambut tampak jarang dan sering rewel. Istilah busung lapar identik dengan kemiskinan, maka pada zaman pemerintahan Orde Baru istilah tersebut diperhalus menjadi KKM (Kemungkinan Kurang Makan) atau dengan istilah Marasmus-Kwashiorkor.

Sekitar tahun 1976, ketika itu Dr. Soewardjono Soerjaningrat menjabat sebagai kepala BKKBN, beliau mengemban tugas berat yaitu sosialisasi alat dan metode kontrasepsi dengan maksud mengajak masyarakat pasangan usia subur (PUS) untuk mengatur dan membatasi kelahiran. Masyarakat Indonesia yang telah menikah dihimbau untuk menjalankan KB dengan menganut Norma Keluarga Kecil Bahagia dan Sejahtera (NKKBS).

Awal April 1983 Kepala BKKBN Dr. Soewardjono Soerjaningrat diangkat menjadi Menteri Kesehatan RI. Pada saat yang bersamaan kepala BKKBN diserahkan kepada Dr. Haryono Suyono. Kegiatan kelompok KB lebih digalakkan lagi dengan dukungan kampanye secara besar-besaran. Setelah memimpin Departemen Kesehatan, program dan kegiatan kesehatan pedesaan disebarluaskan dengan lebih intensif. Pelayanan Puskesmas diperluas ke pedesaan dan pedukuhan dengan intensitas yang sangat tinggi.

Pada peringatan Hari Keluarga Nasional tanggal 29 Juni 1983 disepakati untuk meningkatkan koordinasi penanganan KB dan kesehatan di pedesaan. Koordinasi itu diwujudkan dengan menggabungkan pos-pos KB dan pos kesehatan yang telah ada menjadi pos pelayanan terpadu (Posyandu) untuk KB dan kesehatan.

Definisi Posyandu adalah kegiatan kesehatan dasar yang diselenggarakan dari, oleh dan untuk masyarakat yang dibantu oleh petugas kesehatan. Jadi Posyandu merupakan kegiatan swadaya dari masyarakat di bidang kesehatan dengan penanggung jawab kepala desa.

Ada 5 (lima) kegiatan pokok di Posyandu, yaitu keluarga berencana, kesehatan ibu dan anak, pemantaun gizi anak, imunisasi (suntikan pencegahan) dan penanggulangan diare. Masihkah kita ingat akan lagu Anak Sehat yang bunyinya sebagai berikut :

Aku anak sehat, tubuhku kuat, karena ibuku rajin dan cermat.

Semasa aku bayi, selalu diberi ASI, makanan bergizi dan imunisasi

Berat badanku ditimbang selalu, Posyandu menunggu setiap waktu

Bila aku diare, ibu selalu waspada, Pertolongan oralit selalu siap sedia

Dari lagu tersebut, kita mendapat beberapa pesan akan manfaat Posyandu. Apabila program yang telah disusun itu benar-benar dijalankan maka masalah kesehatan pada bayi dan balita serta kasus gizi buruk bahkan busung lapar akan terdeteksi lebih dini.

Satu unit Posyandu, idealnya melayani sekitar 100 balita (120 kepala keluarga) atau sesuai dengan kemampuan petugas dan keadaan setempat. Posyandu KB-Kesehatan perlu dipadukan untuk memberi keuntungan bagi masyarakat karena di sana masyarakat dapat memperoleh pelayanan yang lengkap pada waktu dan tempat yang sama. Setiap Posyandu umumnya dibuka sebulan sekali dan dilaksanakan oleh kader Posyandu yang terlatih di bidang KB dan kesehatan yang berasal dari PKK, tokoh masyarakat dan pemuda secara sukarela dengan bimbingan tim pembina LKMD tingkat kecamatan.

Posyandu bertujuan untuk mempercepat penurunan angka kematian bayi, anak balita dan angka kelahiran. Selanjutnya untuk mempercepat penerimaan NKKBS dan agar masyarakat dapat mengembangkan kegiatan kesehatan dan kegiatan-kegiatan lain yang menunjang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya.

Kendala di Lapangan

Sehubungan dengan maraknya kasus busung lapar di berbagai provinsi di Indonesia, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tanggal 9 Juni 2005 yang lalu mengumpulkan seluruh gubernur untuk membahas kasus memilukan ini. Para gubernur dikumpulkan untuk melaporkan secara terbuka kondisi konkret masalah ketersediaan gizi dan kondisi kesehatan lingkungan masyarakat provinsi masing-masing.

Presiden dengan sigap telah memberi instruksi melalui Menko Kesra dan Menteri Dalam Negeri agar PKK segera menghidupkan kembali Posyandu sampai ke desa-desa dan pedukuhan, karena Posyandu merupakan garda terdepan dalam memonitor perkembangan kualitas kesehatan anak-anak, khususnya balita.

Bagi masyarakat yang sudah sadar dengan kesehatan dan mempunyai rasa kesetiakawanan yang tinggi, penyelenggaraan Posyandu di desanya masih tetap berjalan. Namun terdapat beberapa kendala dalam penyelenggaraan Posyandu antara lain banyak kader yang mengundurkan diri dengan berbagai alasan, antara lain minimnya dukungan dana operasional bagi para kader sehingga mereka enggan untuk bekerja, ada kader yang mencari nafkah di desa atau kota lain serta kurang profesionalnya kerja pamong desa yang menggantikan tugas kader Posyandu tersebut.

Letak desa yang terpencil juga merupakan kendala tersendiri. Petugas merasa enggan datang karena jalan ke desa yang dituju jelek dan kurang tersedianya sarana transportasi. Hal itu diperparah dengan pengetahuan masyarakat yang masih rendah tentang kesehatan dan gizi makanan yang diberikan kepada anak balitanya. Masih terdapat orangtua yang memberikan makanan secara asal-asalan sehingga anak mengalami kurang gizi.

Sistem Lima Meja

Pelaksanan Posyandu terkadang tampak acak-acakan, dikarenakan pelaksanaannya di rumah salah satu warga sehingga kurang luas. Meskipun tampak acak-acakan sebenarnya mempunyai skema Pola Keterpaduan KB-kesehatan melalui sistem lima meja. Meja pertama yaitu pendaftaran. Meja kedua, bagi bayi, balita dan ibu hamil dilakukan penimbangan berat badan. Di meja ketiga, dilakukan pengisian KMS (Kartu Menuju Sehat) berapa berat badan bayi, balita dan ibu hamil yang ditimbang berat badannya tadi. Meja keempat, para kader Posyandu atau petugas kesehatan akan memberi penyuluhan, misalnya bila berat badan bayi dan balita yang ditimbang tidak mengalami kenaikan atau justru terjadi penurunan dari penimbangan bulan sebelumnya, maka bayi dan balita tersebut perlu diberi makanan tambahan yang mengandung karbohidrat, protein, vitamin dan lemak.

Bagi ibu hamil dengan adanya penyuluhan dari bidan atau dokter dapat mengetahui apakah mempunyai risiko tinggi seperti letak bayi tidak normal dalam kandungan, tekanan darah yang rendah atau tinggi dan bila ada yang mengalami anemia akan diberi tablet besi.Terakhir adalah meja kelima, terdapat pelayanan imunisasi dasar yakni BCG, hepatitis B, DPT-polio, campak, dan TT (tetanus) bagi ibu hamil, KB dan pengobatan sederhana dari petugas kesehatan bagi bayi, balita dan ibu yang sakit. Bagi yang menderita diare akan diberi oralit.

Posyandu ini merupakan kegiatan dari, oleh dan untuk masyarakat, maka pendanaanya juga secara swadaya kalaupun ada dana bantuan dari pemerintah jumlahnya sangat kecil. Bentuk swadaya dari masyarakat misalnya berupa iuran yang ditetapkan oleh Posyandu setempat untuk Pemberian Makanan Tambahan (PMT) berupa kacang hijau atau yang lainnya.

Kader-kader Posyandu yang aktif memang layak dihargai. Secara langsung mereka dapat mengetahui keadaan bayi dan balita yang menderita gizi buruk bahkan busung lapar secara dini. Agar anak Indonesia terhindar dari gizi buruk dan busung lapar, pemerintah dituntut perhatian yang lebih besar terhadap masalah kesehatan warga negaranya. Selain itu marilah kita perbaiki rasa kesetiakawanan dan sikap peduli terhadap sesama serta mengaktifkan kembali Posyandu sebagai garda terdepan memonitor perkembangan kualitas kesehatan anak-anak, khususnya balita.

Mengingat begitu potensialnya peran posyandu sudah sewajarnya bila pendamping pkh berperan aktif dalam pelaksanaan posyandu, terutama memberi motivasi terus menerus kepada ibu–ibu penerima dana pkh supaya aktif membawa anaknya ke posyandu. Sehingga pada saatnya nanti akan didapat generasi muda Indonesia yang sehat cerdas dan berdaya.

Bravo UPPKH Kabupaten Madiun

Ditulis Oleh :
Oktavia Sunu Winarko
Pendamping PKH Kecamatan Wungu

kita harus melayani mereka

kita harus melayani mereka
terima kasih PKH