Rabu, 30 Maret 2011

Monev KUBE PKH dan Service Provider


Perkembangan usaha pemberdayaan kelompok PKH oleh pendamping PKH Kabupaten Madiun, ternyata semakin mendapatkan dukungan dari UPPKH Pusat. hal tersebut dapat dilihat dari semakin bertambahnya jumlah KUBE-PKH yang mendapatkan Bantuan Modal Usaha dari Kementerian Sosial di Kabupaten Madiun yaitu 15 KUBE PKH tahun 2010. perlu diketahun tahun 2009, Kabupaten Madiun hanya 2 KUBE PKH yang mendapatkan.
seiring dengan dukungan tersebut, proses pengawasan tetap selalu dilakukan. Hal tersebut dibuktikan dengan kedatangan Tim Monev dari Dinas Sosial Provinsi Jatim ke Kabupaten Madiun pada Hari Kamis, 17 Pebruari 2011, jam 10.00 WIB.
Dengan 15 KUBE PKH yang telah mendapatkan bantuan, ini menunjukkan tingkat kepercayaan yang tinggi dari UPPKH Pusat. Untuk itu, kepercayaan ini harus dijaga dengan baik dengan cara mengelola KUBE PKH dengan sebaik-baiknya sesuai dengan tujuan dibentuknya KUBE PKH ini yaitu untuk meningkatkan kesejahteraan anggota, sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Bu Ratna disela-sela Monev di KUBE 'Mekar Lestari' Desa Jerukgulung Kecamatan Balerejo.

Sementara Itu,
PELATIHAN MANAJEMEN KELOMPOK PKH
Di bulan ini (pebruari-red) ini juga monitoring dan evaluasi untuk service provider (dinas/instansi terkait PKH di Kabupaten Madiun) dilakukan oleh Dinas Sosial Propinsi Jawa Timur. Dengan memberikan beberapa pertanyaan untuk mengisi angket evaluai PKH kepada petugas kesehatan, petugas pelayan pendidikan dan petugas PT. POS Indonesia serta melihat langsung keadaan di lapangan.
Pada awal tahun 2011 ini dilakukan di 2 kecamatan, yakni kecamatan Wonoasri dan Kecamatan Wungu. adapun hasilnya nanti dipakai untuk mengetahui kemampuan faslitas pendidikan dan kesehatan serta PT Pos Indonesia dalam menyukseskan PKH ke depan.
Kembali ke KUBE,
Demi menyambut pemakaian dan pemanfaatan bantuan KUBE dari Kemensos RI, UPPKH Madiun menggelar Pelatihan Manajemen Kelompok yang diadakan di Balai Pertanian Kecamatan Balerejo. Pemateri adalah Achmad Dharsono selaku Kepala Kantor UPPKH Madiun dan Pendamping.
Tujuan dari Pelatihan Manajemen ini tak lain adalah mempersiapkan diri bagi Kelompok penerima Bantuan KUBE PKH dalam hal pengelolaan, pencarian solusi pemecahan Masalah dan pengembangan usaha secara bersama-sama.
Ditegaskan pula oleh Achmad Dharsono, "Bantuan KUBE ini adalah amanah, dalam memulai usaha jangan sekali-kali memimpikan kegagalan, namun berupaya untuk menepati segala aturan di kelompok-laj merupakan cara untuk meraih keberhasilan KUBE nantinya". (PB)

Semua Itu Guru, Termasuk Alam Sekitar Kita

Pentingnya PAUD

Dari sekian banyak prasarat fungsional salah satu yang dibiayai dalam Program Keluarga Harapan adalah balita yang dalam bahasa pendidikan non formal, mereka ini masuk dalam kategori Anak Usia Dini.

Anak adalah manusia kecil yang mempunyai potensi dan karakteristik yang khas yang tidak sama dengan orang dewasa, mereka selalu ingin tahu terhadap apa yang dilihat, didengar dan dirasakan. Mereka seolah-olah tidak pernah berhenti untuk belajar.

Pendidikan Anak Usia Dini idealnya dimulai dari lingkungan keluarga, dalam hal ini adalah orang tua dan pihak yang merasa dekat dengan anak. Anak Usia Dini berada pada rentang usia 0 – 6 tahun. Pada masa ini proses pertumbuhan dan perkembangan anak dalam berbagai aspek mengalami perkembangan yang sangat pesat.

Anak baru lahir sampai dengan usia 6 tahun, merupakan usia yang sangat menentukan dalam pembentukan karakter dan kepribadian seorang anak. Untuk itu pendidikan bagi seorang anak di usia dini perlu sekali untuk diberikan. Upaya untuk memberi pendidikan seorang anak adalah dengan cara membimbing, mengasuh memberi kegiatan pembelajaran yang akan menghasilkan kemampuan dan ketrampilan seorang anak.

Tumbuh kembang seorang anak dapat di lihat bukan hanya dari tinggi rendahnya berat badan yang diukur setiap bulannya, akan tetapi juga dilihat dari cepat tidaknya seorang anak menangkap respon yang diberikan sesuai dengan batas usia. Untuk anak usia Batita ( Bawah Tiga Tahun ) asupan gizi memang sangat diperlukan dan dapat dipantau dari perkembangan timbang badan anak. Akan tetapi anak usia Balita ( Bawah Lima Tahun ) dan lebih dari usia lima tahun tumbuh kembang anak dapat dilihat dari sejauh mana seorang anak mampu beradaptasi dengan lingkungan, mampu melakukan perintah, dan mampu melakukan gerakan – gerakan motorik, baik motorik halus maupun motorik kasar.

Tempat untuk memberi pendidikan bagi anak usia 4 – 6 tahun selain di lingkungan keluarga adalah masuk dalam pendidikan non formal. Yaitu Taman Kanak-Kanak ( TK ) dan Kelompok Bermain ( play group ). Karena dua lembaga tersebut merupakan tempat untuk melatih dan mendidik anak Usia Dini. Mereka yang masuk di lingkungan tersebut akan dapat kita pantau perkembangan kemampuan anak Dalam Program Keluarga Harapan sesuai dengan PTO ( Petunjuk Teknis Operasional ) dari UPPKH Pusat tumbuh kembang seorang anak sebelum memasuki ke jenjang pendidikan formal yaitu dengan cara pemantauan melalui Posyandu dimana peserta PKH tinggal. Dimana Posyandu hanya bisa melihat seorang anak untuk ukuran berat badan saja, dan akan lebih ideal kalau tumbuh kembangnya anak juga dilihat dalam lingkungan pendidikan non formal. PAUD atau Pendidikan Anak Usia Dini yang didalamnya termasuk Pendidikan TK dan Kelompok Bermain adalah tempat yang tepat untuk melihat perkembangan seorang anak sampai batas waktu mereka bisa masuk ke pendidikan formal yaitu Sekolah Dasar.

Tulisan ini bertujuan mengingatkan paran orang tua yang memiliki anak pada kategori usia dini, bahwa peletakan pondasi dasar pada anak idealnya dilakukan pada usia dini. Pembentukan watak kepribadian, kecerdasan dan kreatifitas anak seyogyanya dimulai pada saat anak masih di usia dini dan tidak lagi menunggu hingga anak faham dan mengerti tentang hal-hal yang normatif.

Oleh :
Yuli Siswantini
Pendamping PKH Kecamatan Gemarang

Inspirasi : Anak Dan Keluarga

Program PKH adalah program yang diberikan untuk keluarga yang memiliki anak usia 0 sampai dengan 15 tahu atau 18 tahun yang belum selesai sekolah SMP. Maka perlu rasanya kalau kita mengupas permasalah yang umum bagi kita berkaitan dengan anak.


Memiliki seorang anak adalah suatu peristiwa yang bukan saja menyenangkan bagi seorang individu di dunia ini, melainkan juga merupakan peristiwa yang pasti akan merubah keadaan bagi mereka yang mengalaminya. Peristiwa kelahiran seorang anak yang digambarkan sebagai sebuah peristiwa jatuhnya bintang kebahagiaan bagi keluarga yang mendapatkannya.Sejak kelahirannya di dunia, orang tua telah memberikan sebuah benang harapan ( yang tentu saja sangat subjektif dan berdasarkan keinginan individual orang tuanya). Benang harapan tersebut akan terus membubung tinggi sejalan dengan obsesi orang tuanya.

Tetapi ketika anak tersebut mulai besar, tak ubahnya sebuah kerupuk yang kena air. Obsesi mereka makin lama makin melempem. Semakin lama harapan mereka semakin sirna,di mana pada saat yang sama kenakalan demi kenakalan nampak pada anak-anak mereka. Mereka mulai menyadari betapa tidak semudah yang mereka duga sebelumnya, bahwa obsesinya tidak akan mudah terlaksana.

Pada dasarnya seorang anak memiliki 4 masalah besar yang tampak jelas di mata orang tuanya dalam kehidupannya yakni:

  1. Tidak taat aturan (seperti misalnya, susah belajar, susah menjalankan perintah, dsb)
  2. Kebiasaan jelek (misalnya, suka jajan, suka merengek, suka ngambek, dsb.)
  3. Penyimpangan perilaku
  4. Masa bermain yang tertunda

Keempat masalah di atas sedikit banyak akan mempengaruhi hubungan antara anak dan orang tuanya. Walaupun keduanya menyadari bahwa mereka memiliki masalah, namun tampaknya mereka (baik orang tua maupun anak) cenderung untuk saling mempertahankan hak-hak mereka , dan bukan mempertahankan kewajiban mereka

Orang dewasa pada dasarnya memiliki problem yang sama berkaitan dengan hubungan mereka dengan putra/putrinya yakni:

  1. Unexperience syndrome, karena mereka baru benar-benar belajar menangani seorang anak justru pada saat mereka benar-benar memiliki anak.
  2. Unexpected Action, Orang dewasa lebih sering melakukan tindakan-tindakan yang secara tidak sadar sebenarnya bertentangan dengan keinginan yang sebenarnya.
  3. Accidental crime, Orang dewasa lebih sering melakukan tindakan yang diluar batas kemanusiaan justru pada saat ia melihat

Banyak orang tua yang merasa khawatir kalau anaknya akan terpengaruh oleh keadaan sekelilingnya yang penuh dengan kesukaran dan bahaya, serta hal-hal yang kotor. Mereka menahan anak-anaknya supaya di rumah saja tidak boleh bermain atau bergaul dengan anak-anak lain.

Kebingungan alamiah telah membuat orang tua serba salah dalam mengelola putra/putrinya. Ketika mereka bermaksud untuk melindunginya, orang dewasa memiliki kecenderungan untuk melakukan manuver-manuver yang justru membuat putra/putrinya menjadi sangat tidak aman dan semakin membutuhkan perlindungan atau dengan kata lain tidak dapat mandiri.

Perlu dicatat bahwa hubungan antara orang tua dengan anak sangatlah vertikal. Dalam konteks ini orang dewasa akan menjadi sebuah basis kekuasaan yang tentu akan memunculkan hak kekuasaan yang tiada batasnya terhadap anak-anak mereka

Hubungan vertikal ini akan menyebabkan terjadinya pola bentuk kekuasaan antara orang dewasa dengan anak pada khususnya. Manipulasi akan sering terjadi manakala hubungan yang terjadi menjadi begitu tidak harmonis. Manipulasi akan dilakukan oleh orang dewasa untuk mengantisipasi kebingungannya dalam mengelola anak-anak mereka

Manipulasi dalam konteks diatas dapat dikonotasikan dengan sebuah usaha untuk melakukan sesuatu hanya dengan satu tujuan yakni untuk kepentingan pelakunya dan tanpa mempedulikan kepentingan individu yang diperlakukannya.

Ketika orang dewasa melakukan manipulasi, maka ia akan menggunakan dan atau mengendalikan, dan mengembangkan serta memakai cara-cara tertentu untuk kepentingannya secara subjektif tanpa melihat kepentingan subjek lainnya. Sangat disayangkan bahwa manipulasi selalu akan menimbulkan penderitaan bagi individu yang dimanipulir.

Untuk itu perlu adanya pendidikan untuk anak baaik lewat lembaga negara maupun keluarga. Pemerintah sendiri telah mencanangkan wajib belajar 9 tahun dan untuk propinsi Jawa Timur telah mencanangkan Wajib Belajar 12 tahun.

Peran Bangsa dan Lembaga Pendidikan

Pendidikan mempunyai peranan yang sangat menentukan bagi perkembangan dan kualitas diri individu, terutama dalam menentukan kemajuan pembangunan suatu bangsa dan negara. Tingkat kemajuan suatu bangsa tergantung kepada cara bangsa tersebut mengenali, menghargai dan memanfaatkan sumber daya manusia yang berkaitan erat dengan kualitas pendidikan yang diberikan kepada calon penerus dan pelaksana pembangunan.

Lembaga pendidikan merupakan lembaga yang bertanggung jawab dan berkompetensi penuh atas proses pendidikan. Lembaga pendidikan wajib menyediakan berbagai fasilitas dan memenuhi kebutuhan peserta didiknya dalam upaya mencapai tujuan pendidikan.

Peran Keluarga dalam pendidikan anak

Sedangkan keluarga adalah merupakan lingkungan pendidikan pertama bagi anak. Di lingkungan keluarga pertama-tama anak mendapat pengaruh, karena itu keluarga merupakan lembaga pendidikan tertinggiyang bersifat informal dan kodrat. Pada keluarga inilah anak mendapat asuhan dari orang tua menuju ke arah perkembangannya.

Keluarga bagi seorang anak merupakan lembaga pendidikan non formal pertama, di mana mereka hidup, berkembang, dan matang. Di dalam sebuah keluarga, seorang anak pertama kali diajarkan pada pendidikan. Dari pendidikan dalam keluarga tersebut anak mendapatkan pengalaman, kebiasaan, ketrampilan berbagai sikap dan bermacam-macam ilmu pengetahuan.

Sayangnya, banyak orang tua yang tidak tahu bagaimana cara mendidik anak yang baik bagi pertumbuhan optimal anak. Akibatnya, anak pun tumbuh tidak sebagaimana yang diharapkan

Dari semua penjelasan diatas perlu untuk diketahui bahwa mendidik anak baik dalam hal penerapan pola asuh, pendidikan dan juga dalam memahami anak, sangatlah wajib hukumnya untuk diketahui bagi ayah/ibu. Apapun latarbelakang ayah/ibu... Mari Kita Merenungkan Bersama, Kadang Begitu Berat Tanggung Jawab Kita Sebagai Orangtua

Kadang kita sebagai orangtua sering kali dihadapkan dengan suatu permasalahan tentang putera/puteri kita. Banyak hal yang selalu membuat kita kadang merasa bingung, kawatir, dan tidak tahu harus berbuat apa untuk mendidik dan mengarahkan mereka.

Bahkan kita sampai kelepas emosi dalam mendidik mereka. Tidak jarang pula dari kita juga berkata keras pada mereka, Kita merasa mereka sangat sulit untuk diarahkan. Biasanya, kita pun pernah mengalami hal seperti ini.

Mengalami kebingungan dalam menghadapi dan mendidik anak

Merasa Bingung dalam mengatasi permasalahan perilaku, belajar dan prestasi anak

Merasa tidak tahu apa yang harus dilakukan dalam memberikan perhatian pada anak

Merasa tidak tahu bagaimana menjadi teladan dan apa yang patut dicontoh bagi anak

Merasa bingung antara komitmen pekerjaan dengan keluarga dan anak

Tidak tahu mengenai pendidikan anak

Perasaan kawatir dengan perkembangan anak dan pendidikan anak

Sering merasa jengkel dan emosi dengan perilaku anak

Tidak tahu bagaimana mengoptimalkan potensi anak

Kewalahan menghadapi anak dan mendidik anak

Semua itu adalah perasaan yang kadang mendera kita sebagai orangtua dalam menghadapi anak kita di waktu pagi, siang dan malam. Masa depan, pendidikan, perilaku, dan perkembangan anak adalah hal yang perlu kita ketahui dan pelajari. Agar anak kita nantinya menjadi anak yang sholeh, taat pada agama, sopan, baik, pintar, berbakti pada orang tua, bermanfaat bagi orang lain , sukses, bahagia dan lain-lain.

Ada baiknya kalau kita merasa bingung untuk menhadapi itu semua kita bias mendiskusikannya dengan orang-orang yang kita anggap lebih tahu attaupu lebih mengerti tentang permasalahan kita. Jangan pernah malu untuk bertanya agar kita dapat memperoleh apa yang kita harapkan. Dan anak adalah harapan kita , harapan bangsa semoga mereka bias mengangkat harkat dan martabat kita.

kita harus melayani mereka

kita harus melayani mereka
terima kasih PKH