Tampilkan postingan dengan label Bulletin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bulletin. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Desember 2010

Open System 2010,

Perjalanan Program Keluarga Harapan (PKH) di Indonesia sudah mulai memasuki tahun ke-3, terhitung dari diluncurkannya ditahun 2007 hingga sekarang tahun 2010. Sedangakan dalam perkembangannya, banyak RTSM peserta PKH yang sudah tidak layak atau non eligible sehingga RTSM tersebut sudah tidak berhak menjadi peserta PKH. Berkurangnya peserta PKH yang tidak layak hingga mencakup separo dari kuota awal. Ada beberapa alasan mengapa peserta PKH sudah tidak layak menjadi peserta PKH. Yaitu dikarenakan non eligible mati, pindah alamat, double, kaya dan mampu, alamat tidak ditemukan dan non RTSM. Dan RTSM PKH yang sudah tidak layak inilah yang harus diganti dengan RTSM baru yang layak menjadi calon peserta PKH.

Tidak semudah membalikkan telapak tangan untuk mengganti dan mencari pengganti RTSM PKH yang baru. Serta bukan juga menjadi kewenangan Pendamping UPPKH untuk menggantinya. Banyak mekanisme dan syarat yang harus dilpenuhi untuk mencari pengganti RTSM PKH baru. Mekanisme dan syarat tersebut yaitu sumber data untuk pengganti RTSM diambil dari data PPLS 2008, atau data usulan UPPKH Kab/ Kota yang telah disetujui oleh BPS Kab/ Kota yang dilengkapi dengan nomor barcode, dan jika pendamping menemui kesuliat untuk melakukan pengantian RTSM dapat melakukan rembug desa dengan melibatkan aparat pemerintahan desa setempat, mantri statsitik, dan tokoh masyarakat.

Selain itu, syarat yang tetap harus diperhatikan dalam penggantian RTSM yaitu: calon pengganti termasuk RTSM (rumah tangga sangat miskin), memiliki balita atau ibu hamil, memiliki anak sekolah usia SD hingga SMP (7-15 tahun), jika ada anak usia 15-18 tahun belum sepenuhnnya mengeyam pendidikan maka calon penerima sanggup menyekolahkan anak tersebut untuk memenuhi wajib belajar 9 tahun.

Ini diharapkan agar pengantian RTSM PKH tidak hanya asal memilih (comot) yang bisa menimbulkan pro dan kontra dikemudian hari. Dengan adanya mekanisme dan syarat yang telah ditentukan diharapkan penggantian RTSM PKH tepat sasaran dan dan perjalanan PKH di Indonesia dimasa yang akan datang menjadi lebih baik.


Oleh : Perdita Rizky H, Pendamping PKH Kecamatan Wungu

Jumat, 19 November 2010

Manfaatkan Potensi Lokal, Menjadi Produk Andalan

Desa Blimbing adalah salah satu desa yang terletak diujung paling timur di wilayah kecamatan Dolopo. Desa ini memiliki geografis yang tergolong daerah perbukitan dengan penghasilan warganya terutama dari perkebunan dan buah-buahan. Dari perkebunan yang ada terutama penghasilan utamanya yaitu singkong, cengkeg. Sedang buah-buahan yang dihasilkan terutama durian, pisang dll. Dari pengamatan yang kami lakukan selama mendampingi peserta PKH didaerah ini hasil daerah yang berlimpah ini belum dapat dipergunakan dengfan sebaik-baiknya, hal ini terbentur oleh SDM yang rendah dari warganya, terutama kelompok PKH.

Untuk memfaatkan hasil daerah ini maka kami sebagai pendamping mencoba untuk memberikan sedikit ketrampilan bagi warga PKH di daerah ini. Sadar ketrampilan yang kami miliki sebagai pendamping kurang sesuai dengan hasil daerah ini kami maka kami mencoba untuk melakukan kerja sama dengan instansi terkait terutama kelompok wanita tani daerah ini, karena didaerah ini sudah ada kelompok wanita tani yang telah eksis melakukan pembinaan bagi kelompoknya.

Pembinaan dari kelompok tani dilakukan setiap bulan bersamaan denganpertemuan kelompok PKH pada taggal 19 setiap bulanya. Dengan kerja sama yang kami lakukan kami berharap bila suatu saat mereka keluar dari kepesertaanya di PKH mereka dapat mengembangkan diri dan bisa melakukan usaha untuk menambah inkam keluarga. Selama ini ketrampilan yang mereka dapat antara lain cara untuk memanfaatkan hadsil dari ketela. Yang antara lain; pembuatan ciriping ketela rasa gadung, kerupuk ketela,dan ranginan ketela .

Selain kerja sama yang kami lakukan cra pembuatan pemasaranpun kami bekerja sama dengan kelompok wanita tani desa Blimbing. Hasil yang dihasilkan oleh kelompok PKH dipasarkan bersama dengan hasil dari kelompok wanita tani desa Blimbing

Dari kerja sama ini kami berharap agar tingkat ekonomi dari peserta PKH sedikit mengalami peningkatan dan semoga dengan peningkatan perekonomian mereka meningkatkan kesadara pendidikan bagi anak mereka amiiiiin……….

Oleh :
Nureni,
Pendamping PKH Dolopo

Jumat, 01 Oktober 2010

Media Informasi UPPKH Madiun


Bulletin 'PendampingBerdampingan' Edisi September 2010

Refleksi Pendampingan

Kekuatan dibalik Kelemahan

Di saat sulit dan sempit,misalnya ketika seseorang terancam bahaya, terbentur dengan kenyataan pahit, dihadapkan dengan realitas di luar jangkauan pemikirannya,bagi orang beriman biasanya taqarrub (kedekatan) dan tawakkal (kepasrahan) kepada Allah semakin kuat. Kondisi mentok atau terjepit seringkali memunculkan kesadaran fitrah akan intervensi Tuhan. Namun yang perlu direnungi,haruskah kesadaran itu tumbuh ketika melewati dan mengalami masa-masa sulit? Wajarkah kita bersyukur secara insidentil,sementara limpahan karuniaNya senantiasa mengalir membasahi tubuh kita,sekalipun pada saat yang sama kita tidak berhenti melakukan dosa dan kesalahan?

Sesungguhnya kehidupan manusia rentan dengan kesulitan,penyakit,dan musibah. Mari kita pandang tubuh kita secara tajam. Kita akan mendapati bagian tubuh ini ada lubang yang rawan terjangkiti penyakit mata,telinga,hidung,mulut,kaki dan tangan. Semuanya rentan luka Belum lagi penyakit dalam seperti kanker,tumor sesak nafas dan semacamnya yang tidak diketahui keberadaannya,namun sangat bahaya. Ketergantungan kepada Allah harus kita tumbuhkan sejak dini,termasuk pada saat Allah memberikan karunia yang sebaliknya,yakni kelapangan. Rasulullah bersabda “Kenalilah Allah pada saat lapang,niscaya Ia akan mengenalimu dalam kesempitan”.

Antara kesempitan dan kelapangan,kegagalan dan kelapangan sama pentingnya. Jangan kita menganggap bahwa ujian itu hanya berupa kesempitan saja. Kepasrahan kepada Allah harus kita lakukan setiap saat. Ketika duduk,berdiri,berbaring,berjalan dan berlari. Bahkan kala kita diam tidak beraktifitas. Karena takdir (rencana) dan qadha (pelaksanaannya) diluar rencana kita. “Ketahuilah takdir itu tidak berjalan menurut rencana kita,bahkan kebanyakan yang terjadi adalah apa yang tidak kita rencanakan dan sedikit sekali apa yang kita rencanakan”.

Karena kita rentan terkena musibah,ketergantungan kepada Allah sepanjang masa mutlak adanya. Marilah kita luruskan cara pandang terhadap problem kehidupan sehingga tidak terjebak pada sudut pandang hanya pada peristiwa kehidupan dengan berbagai seginya atau hanya dari sisi lahiriahnya. Kehidupan ini sebenarnya mirip pelangi ketimbang sebuah foto hitam putih. Setiap orang akan merasakan begitu beragam warna kehidupannya. Ia mungkin mencintai sebagian warna itu,tetapi yang pasti tidak akan menyukai semua warna.

Demikia perasaan kita,semua warna kehidupan akan kita respons dengan berbagai jenis perasaan yang berbeda-beda. Seorang menjadi pahlawan karena kemampuannya mengelola sebagaian perasaan sedemikian rupa sehingga tetap dalam kestabilan jiwa yang mendukung produktifitasnya. Kegagalan itu bisa mendorong seseorang untuk lebih menggali kompetensi intinya,pusat keunggulan,yang semula tidak terdeteksi sama sekali.

Ketenangan,kelapangan dada dan keberanian itulah salah satu hasil pendidikan ketergantungan kepada Allah. Manusia memang lemah. Namun Allah menyulap kelemahan itu menjadi sumber kekuatan. Pada kelemahan itulah sandaran kepada Allah semakin kokoh,suplai tenaga dan stamina ruhani bertambah. Puasa yang yang barusan kita lewati adalah salah satu media untuk merekam kelemahan diri. Maka abadilah ungkapan para ulama terdahulu yang mengatakan “Kekuatanku terletak pada kelemahanku”.

Ditulis Oleh :
Didik Subiantoro
Pendamping PKH Kecamatan Balerejo

kita harus melayani mereka

kita harus melayani mereka
terima kasih PKH